Berikut ini adalah beberapa informasi mengenai Keluarga dari situs Wisatasia, semoga informasi ini bermanfaat bagi anda.

Menjadi orang yang pandai mengelola keuangan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi memerlukan kebiasaan dan kedisiplinan yang sudah dibangun dalam waktu yang tidak sebentar. Karena itulah mendidik anak mengenai keuangan sejak ia masih kecil akan sangat bermanfaat. Agar ketika besar nanti mereka terbiasa mengelola keuangan mereka dengan baik. Berbicara mengenai mengajarkan keuangan pada anak, sebuah buku berjudul Smart Money, Smart Kids : Teaching the Next Generation To Win With Money, sang pengarang menjelaskan mengenai proses mengajarkan anak-anak mengenai uang baik dari perspektif orang tua dan anak. Dalam buku tersebut dijelaskan 7 poin yang dianjurkan penulis buku itu untuk diajarkan kepada anak mengenai uang.

1. Beri Imbalan Atas Pekerjaan yang Dilakukan

Beri Imbalan Atas Pekerjaan yang Dilakukan Anak Anda via huffpost.com
Beri Imbalan Atas Pekerjaan yang Dilakukan Anak Anda via huffpost.com
Ternyata, sebagian besar anak-anak saat ini tidak lagi mengerti konsep dasar ini, bahwa untuk mendapatkan uang seseorang harus bekerja terlebih dahulu. Sang penulis buku, Dave dan Rachel merekomendasikan untuk membuat sebuah sistem komisi di rumah, dengan cara memberikan anak uang untuk hal-hal yang dilakukannya di rumah seperti membersihkan rumah, mencuci piring, membersihkan kamar. Hal ini dinilai lebih baik dibandingkan memberikan uang jajan setiap hari atau setiap minggu.

Di samping mendidik anak bahwa uang tidak datang dengan sendirinya, dengan cara ini anak juga bisa menjadi rajin untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya. Pemberian uang dapat dilakukan Minggu malam, pada akhir pekan. Sehingga anak mempunyai pilihan untuk mengerjakan pekerjaan rumah saat akhir pekan dan tidak terganggu dengan kegiatan belajar dan bermainnya.

2. Perbolehkan Anak Habiskan Uang

Gunakan Uang Secara Bijak via valpak.com
Gunakan Uang Secara Bijak via valpak.com
Jika pada umumnya orang tua melarang anak-anaknya menghabiskan seluruh uang yang dimilikinya sekaligus, maka sesekali biarkanlah orang tua harus membiarkan anaknya menghabiskan uang yang dimiliki untuk sesuatu yang merugikan sekalipun. Dengan membiarkan anak Anda sesekali mengikuti pilihan yang buruk tersebut, anak akan mempunyai pengalaman belajar jika uangnya habis dan tidak ada lagi yang tersisa. Anak akan lebih menghargai uang dan berpikir cerdas menghabiskan uang untuk hal yang paling penting. Cara tersebut akan mengajarkan pada anak bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dalam menggunakan uang.

3. Jangan Selalu Ikuti Kemauan Mereka

Tidak Apa-apa Sabar Menunggu via fastly.net
Tidak Apa-apa Sabar Menunggu via fastly.net
Ada banyak pula anak-anak yang berpikir bahwa saat mereka menginginkan sesuatu, mereka harus langsung mendapatkannya dengan meminta orang tua membelikan. Akibatnya, banyak orang tua yang tidak tega menjadi mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata jika kebiasaan ini, jika terus diterapkan pada anak, akan berlanjut ketika ia besar nanti saat ia berada di tempat kerja. Di mana akan menjadi orang yang tidak bisa mau berusaha dan bekerja keras, bahkan seringkali mengajukan kenaikan gaji, tanpa berbuat sesuatu terlebih dahulu untuk mendapatkan apresiasi tersebut. Mereka tidak memiliki konsep mengenai pencapaian yang tertunda.

Cara untuk mengajarkan anak mengenai hal ini ialah dengan mengajarkannya menabung untuk sesuatu yang sangat mereka inginkan. Misalkan untuk membeli suatu mainan seharga 100 ribu rupiah, ajarkan ia menyisihkan sebagian kecil uangnya, sehingga ketika saatnya tiba pun sang anak tentu merasa lebih puas karena telah cukup sabar menunggu dan menabung, berusaha untuk sesuatu yang diinginkannya.

4. Ajarkan Berbagi

Ajarkan Dia Berbagi via netdna-cdn.com
Ajarkan Dia Berbagi via netdna-cdn.com
Setiap agama pasti mengajarkan untuk memberikan sebagian uang yang kita miliki untuk orang yang juga membutuhkan. Anak dapat diajarkan untuk menyisihkan sejumlah uang yang didapatnya untuk kemudian diberikan kepada orang lain. Hal ini ternyata juga memberikan pelajaran berbahagia karena telah berbagi dengan orang lain. Sampai anak dewasa nanti, ia akan belajar untuk peduli terhadap sesamanya dan terus berbagi.

5. Ajarkan Dia Untuk Mengingat Pengeluarannya

Ajarkan Mengatur Pengeluaran via lorensworld.com
Ajarkan Mengatur Pengeluaran via lorensworld.com
Saat anak sudah belajar untuk membagi porsi antara pengeluaran, tabungan, dan uang untuk berbagi kepada orang lain. Ajarkan anak bagaimana menghabiskan uang pengeluarannya dengan baik. Beritahu bahwa jika ia tidak mengatur ke mana uang tersebut dihabiskan, maka uang itu akan habis secara sia-sia. Untuk anak-anak yang mulai memasuki usia remaja, berikan tangung jawab untuk mengatur pengeluarannya. Berikan pemahaman bahwa setiap pakaian, makanan, aktivitas hiburan membutuhkan uang yang perlu dikelola dengan baik.

6. Ajarkan Anak Untuk Tidak Berutang

Beli Sesuai Dengan Kesanggupan Membayar via behindthethrills.com
Beli Sesuai Dengan Kesanggupan Membayar via behindthethrills.com
Dalam era ini, sudah sangat banyak orang menggunakan kartu kredit untuk secara instan mendapatkan yang mereka inginkan. Padahal sebetulnya, belum tentu memiliki uang yang cukup untuk membeli barang tersebut. Di luar negeri pun, seakan-akan, sekarang sudah menjadi budaya berhutang untuk membayar kuliah atau membeli mobil. Sehingga pada saat lulus, seorang mahasiswa bisa saja masih memiliki utang yang menumpuk untuk dibayar. Seharusnya hal ini bisa dicegah dengan memberikan pemahaman untuk tidak membeli sesuatu yang belum sanggup dibayar.

7. Ajarkan Cara Bersyukur

Ajarkann Bersyukur via focusok.com
Ajarkann Bersyukur via focusok.com
Anak perlu belajar untuk mengingat apa-apa saja yang telah mereka dapatkan, dibandingkan apa-apa saja yang mereka inginkan. Terapkan saat Anda  berjalan-jalan dengan anak ke tempat wisata, di sana biasanya anak akan meminta dibelikan banyak sekali jajanan. Setelah pulang, ingatkan apa-apa saja yang sudah ia dapatkan sepanjang hari, lalu minta ia untuk menahan diri dan lebih menghargai lagi apa-apa yang sudah ia dapatkan.

Didik Akan Keuangan Sejak Dini

Mendidik anak Anda mengenai keuangan merupakan hal penting yang harus Anda lakukan sejak dini. Jika semenjak kecil anak tidak diajarkan mengenai pentingnya mengatur keuangan, ketika mereka besar nanti hal itu akan menjadi sulit untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal itu tentu saja karena mengatur keuangan erat sekali hubungannya dengan kebiasaan dan displin. Jadi tidak ada salahnya mengajarkan anak Anda cara mengelola keuangan sejak dini bukan?

Membicarakan pernikahan tak lepas dari bahasan mengenai hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan selain kebutuhan upacara pemberkatan perkawinan dan pesta pernikahan itu sendiri. Pernikahan bukan hanya mengenai pelepasan status lajang menjadi resmi suami dan istri, ada banyak hal yang harus benar-benar dipikirkan, dipersiapkan secara matang, dan tentu saja hal ini menuntut kesiapan mental dari Anda dan pasangan selaku subjek yang akan menghadapi semua permasalahan dari pernikahan sebagai konsekuensi untuk membentuk sebuah keluarga.

Salah satu hal yang penting dan sejujurnya memang hal utama selain mental adalah persiapan finansial untuk keluarga Anda nantinya. Persiapan finansial ini bukan hanya mengenai kebutuhan hidup berdua namun juga calon anggota keluarga lainnya yaitu anak Anda. Belum lagi ada beberapa urusan lain yang sebaiknya juga dimiliki sebagai antisipasi dan proteksi terhadap keluarga, yaitu asuransi. Bermacam-macam kebutuhan yang dasarnya harus dipenuhi ini tak jarang menimbulkan tekanan pada setiap pasangan suami dan istri baru ini. Bila boleh jujur, sejatinya tidak pernah ada pasangan yang siap seratus persen dalam menjalani sebuah komitmen yaitu menikah dan membangun keluarga. Sekalipun keduanya telah mapan dalam hal finansial, mental harus siap secara dinamis untuk dapat menghadapi segala terpaan dalam dinamika berkeluarga.

Mari fokuskan pembahasan pada topik finansial yang jelas menjadi topik yang cukup krusial dalam urusan pernikahan. Akuilah ketika Anda akan menikah, Anda merasa siap tidak siap untuk hidup sepenuhnya menerima pasangan Anda apa adanya sungguh-sungguh apa adanya. Perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, karir, dan hal-hal lainnya tak jarang menjadi ‘penggoda’ bagi Anda untuk berpikir ulang mengenai komitmen berkeluarga ini. Bagaimana bila pernikahan ini gagal? Bagaimana bila ternyata suami dan istri selama ini tidak siap untuk berkomitmen jangka panjang? Bagaimana bila pasangan suami dan istri ini tidak sanggup berjuang bersama? Semua akan muncul ketika Anda semakin dekat dengan tanggal pengesahan atau hari pernikahan. Wajar, karena Anda akan seumur hidup menjalani keseharian dengan orang yang sama, menghadapi masalah dengan orang yang sama, mungkin akan muncul cekcok berulang dari orang yang sama. Bahkan bisa dikatakan pernikahan itu sebuah komitmen yang membosankan.

Kesiapan Finansial

Berbicara mengenai kesiapan finansial dalam keluarga, tidak jarang beberapa pasangan suami istri menyepakati komitmen untuk membicarakan bersama mengenai arus aliran kas pendapatan dan pengeluaran untuk kebutuhan bersama. Beberapa dari mereka bersedia terbuka untu mengatakan bahwa setiap pribadi dari mereka ingin diperbolehkan memiliki rekening tabungan pribadi yang jelas penggunaannya bersifat pribadi dan pasangan tidak boleh terlalu ikut campur terhadap uang dalam rekening tabungan pribadi. Pada awal kesepakatan ini terlihat begitu mulus, kedua belah pihak sama-sama menyetujui adanya komitmen bersama ini.

Namun tidak semua pasangan suami istri pada akhirnya bisa terus memegang komitmennya, apalagi komitmen yang dibuat merupakan janji jangka panjang yang harus ditepati secara disiplin. Meski beberapa orang mungkin akan berpendapat bahwa ketidakdisiplinan untuk menepati janji bersama ini wajar mungkin karena jenuh, namun janji tetaplah janji yang harus ditepati. Entah ada alasan apa, ada faktor luar apa, kesepakatan ini bagai kontrak tanpa batas waktu. Setidaknya, terdapat 5 hal yang merupakan kebijakan dan kesepakatan bersama pasangan suami dan istri mengenai aturan main finansial mereka yang justru berpotensi menggoyahkan keuangan Anda dan pasangan. Apa saja? ini dia!

1. Membeli Rumah Baru

Membeli Rumah Baru via mcarthurhomes.com
Membeli Rumah Baru via mcarthurhomes.com
Memiliki rumah sendiri merupakan impian setiap pasangan baru dan kerap menjadi dasar dalam membangun kerajaannya sendiri-sendiri. Keputusan ini jelas merupakan keputusan hasil rundingan bersama antara suami dan istri. Anda mungkin akan merasa campur aduk antara senang dan tertekan. Senang karena memiliki rumah baru, tertekan karena mungkin pendanaan Anda kurang sehingga Anda harus melakukan pinjaman – yang tentu saja akan menimbulkan kewajiban pembayaran bunga hutang.

Sebelum memutuskan untuk berhutang entah pada bank, lembaga keuangan non bank, atau kepada keluarga persiapkan lebih dahulu mengenai jumlah keluarga (jumlah anak yang akan hadir), luas rumah, kebutuhan ruangan, dan lain-lain. Ini akan berpengaruh pada jumlah pinjaman yang akan Anda dapatkan dan secara tidak langsung juga kepada jumlah bunga hutang yang harus dibayarkan. Jangan sampai Anda asal dalam meminjam namun pada akhirnya kesulitan dalam pengembalian hutang beserta bunga hutang akibat pendapatannya tidak menutupi. Jangan lupa untuk memperhitungkan biaya hidup selama masa pembangunan rumah (bila ingin membangun rumah).

2. Memiliki Anak

Memiliki Anak via landonhomes.com
Memiliki Anak via landonhomes.com
Setelah menikah dan memiliki rumah, memiliki anggota keluarga baru wajib hukumnya. Memiliki anak merupakan impian setiap pasangan suami istri untuk meneruskan keturunan mereka baik dari sisi Ayah maupun dari sisi Ibu. Anda mungkin akan senang dengan merawat mereka, bermain dengan anak, dan hal-hal lain. Namun pertimbangkan bahwa anak juga membutuhkan biaya yang besar selama masa pertumbuhan dan perkembangannya hingga setidaknya berusia 18 tahun dimana ia dianggap telah siap untuk tinggal terpisah dengan orang tuanya. Biaya yang harus Anda persiapkan untuk kehidupannya, sekolahnya, kebutuhan dan keinginannya juga bukan merupakan nominal yang sedikit. Perhitungkan antara pendapatan Anda dan pasangan dengan kemampuan untuk menghidupi anak.

3. Dana Darurat

Persiapkan  Dana Darurat via livingwellspendingless.com
Persiapkan  Dana Darurat via livingwellspendingless.com
Ketika Anda telah memiliki anak, mungkin ada masa Anda harus cuti dan fokus dalam mengurus anak. Ini artinya Anda tidak memiliki pendapatan dan kehidupan Anda bergantung pada pasangan yang bekerja. Tentu saja ini harus dipertimbangkan apakah Anda sungguh-sungguh telah siap dalam pembiayaan ataukah Anda perlu untuk kembali mengajukan hutang untuk sementara waktu menanggung kehidupan Anda yang tidak memiliki pendapatan. Perasaan was-was dan tertekan pasti dan jelas akan dialami oleh pasangan suami istri ini mengingat baru memiliki anak pertama dan biasanya orang tua akan cenderung lebih kaku.

Baik pasangan yang bekerja atau Anda yang mengurus anak, keduanya akan sama-sama merasakan tekanan yang cukup besar untuk ditanggung berdua. Belum lagi bila Anda sendiri memiliki perasaan malu yang cukup besar terhadap pasangan ketika tidak memiliki pendapatan. Maka dari itu, pertimbangkan dari awal bahkan sebelum memiliki anak. Berapa dana darurat yang harus siap, berapa nominal minimal yang harus ada di tabungan, baik itu tabungan pribadi maupun tabungan bersama. Hal-hal ini penting untuk mencegah kekurangan dana untuk hidup dan mencegah tekanan yang mungkin muncul.

4. Kewajiban Merawat Orang Tua

Kewajiban Merawat Orang Tua via timesulin.wpengine.netdna-cdn.com
Kewajiban Merawat Orang Tua via timesulin.wpengine.netdna-cdn.com
Mungkin Anda cukup tertekan dengan kehadiran sang buah hati pertama karena belum pernah mengurusi secara langsung sebelumnya mengenai kebutuhan dan keinginan serta apa yang terbaik bagi anak. Belum lagi persoalan pendidikan yang sangat penting. Anda mungkin lebih akan tertekan bila tanggung jawab ‘melayani’ ini tidak hanya kepada pasangan atau anak, tapi juga orang tua yang mungkin membutuhkan perhatian lebih di rumah. Perasaan khawatir dan frustrasi mungkin saja muncul karena Anda baru dalam tahap belajar mengurus anak namun di saat bersamaan Anda juga harus mengurus orang tua. Idealnya, Anda dan pasangan harus berkomunikasi dan memperjelas kesepakatan bersama. Rumah ini akan ditempati siapa saja, siapa yang akan mengurusnya. Bila berdua, bagimana pembagiannya. Bagaimana bila ada orang tambahan yang artinya tanggungan biaya hidup ikut bertambah.

5. Anda Telah Siap Untuk Pensiun

Anda Telah Siap Pensiun via asteriskonline.ca
Anda Telah Siap Pensiun via asteriskonline.ca
Setelah Anda berhasil untuk melakukan segala kewajiban Anda dalam membangun rumah tangga hingga berhasil mengantarkan buah hati sampai menyelesaikan pendidikannya, apa yang ingin Anda lakukan lagi selain pensiun? Anda dan pasangan tidak lagi dituntut untuk mengerjakan segala sesuatu yang sifatnya mengurus kehidupan orang lain,  meskipun itu anak sendiri dan kini tinggal berdua saja. Pensiun kiranya menjadi pilihan yang tepat namun perhatikan bahwa dalam masa ini artinya Anda dan pasangan tidak bekerja dan tidak memiliki pendapatan lagi. Komunikasikan mengenai biaya hidup yang harus ada untuk menanggung kehidupan selama masa pensiun sehingga Anda tidak perlu pontang panting bekerja lagi karena kebutuhan Anda dan pasangan tinggal untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Rencanakan Keuangan Dengan Matang

Pada dasarnya, urusan pernikahan memang harus dipersiapkan dalam segala hal, namun aspek finansial memegang peranan cukup penting di sini karena kaitannya dengan kemampuan untuk bertahan hidup. Maka, sebelum Anda dan pasangan yakin telah siap dari berbagai aspek, sekiranya matangkan dahulu persiapan itu guna menghindari permasalahan yang berakar dari ketidak siapan pasangan untuk hidup bersama dan membangun keluarga. Ingat, kesepakatan bersama berarti harus diputuskan secara bersama-sama.

Setiap orang tua pasti mengharapkan anak-anaknya dapat bertumbuh dengan baik dan memiliki sifat-sifat positif di dalam diri mereka. Hal ini tentu saja sangat beralasan karena pada dasarnya kepribadian seseorang akan tertempa sedemikian rupa sejak orang tersebut masih anak-anak. Banyak sifat yang pada akhirnya akan menjadi sifat bawaan yang dimiliki hingga kelak dewasa nanti. 

Karena alasan tersebut, tak heran jika banyak orang tua yang berusaha dengan keras menanamkan kedisiplinan dan berbagai macam kebiasaan yang dianggap positif ke dalam diri anak-anak mereka. Hal ini bisa saja akan berdampak positif bagi si anak, namun bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat maka justru dampak negatif yang akan didapatkan dari penerapan tersebut.

Salah satu hal yang paling sering diterapkan oleh para orang tua terhadap anak-anaknya adalah cara hidup hemat. Ini merupakan pola hidup yang pada prakteknya akan sangat berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang di dalam mengatur keuangannya dan bahkan mengatur keseluruhan hidupnya. Oleh sebab itu, banyak orang tua yang sejak dini telah membiasakan anak-anaknya untuk menerapkan gaya hidup hemat dengan cara mengajarkan hal tersebut kepada mereka sejak dini.

Hindari Menggunakan Metode Hadiah dan Hukuman

Hindari Mendidik Anak dengan Hukuman via wordpress.com
Hindari Mendidik Anak dengan Hukuman via wordpress.com
Pada dasarnya pemberian hadiah kepada anak hanya akan baik bila dilakukan sesekali saja, hanya di momen tertentu dan bukan setiap saat. Tidak baik terlalu sering memberi mereka hadiah karena hal tersebut akan mendidik mereka untuk selalu mengharapkan sesuatu atas perbuatan/sikap baik yang mereka lakukan. Hal ini tentu saja akan berdampak buruk dan menjadi sesuatu kebiasaan negatif yang akan mereka bawa hingga dewasa nanti.

Hal yang tak kalah buruknya adalah ketika si anak kelak telah dewasa dan berbaur dengan masyarakat luas, maka besar kemungkinan dia akan terbiasa mengharapkan imbalan atas setiap perbuatan baik yang dilakukannya pada orang lain. Sebagai orang tua, kita tentu tidak ingin anak-anak kita berada dalam posisi tersebut, karena itu sebaiknya hindari untuk terlalu sering memberi mereka hadiah atas perbuatan baik/kepatuhan mereka kepada orangtua.

Metode Konsekuensi Alami dan Logis

Konsekuensi alami merupakan konsekuensi yang datang secara alami dan tidak dibuat-buat. Sebagai contoh, ketika anak tidak mau makan, maka kita bisa mengingatkan dia, bahwa bila dia tidak makan maka dia akan merasa lapar dan tidak dapat beraktifitas seperti biasa. Saat anak tetap menolak untuk makan dan tidak mendengarkan kita, maka biarkan saja dia tetap beraktifitas dan mengalami sendiri konsekuensi tersebut hingga akhirnya merasa lapar dan meminta makan.

Hal ini juga berlaku di dalam mengajarkan pola hidup hemat kepada anak, dengan cara menabung. Pada saat dia tidak mau/malas untuk menabung uangnya ke celengan, maka kita dapat mengingatkan dia bahwa dia tidak akan bisa membeli barang yang diinginkannya karena celengannya tidak akan pernah terisi penuh. Ketika anak melihat sendiri konsekuensi dari ketidakdisiplinannya tersebut, maka di lain waktu dia akan berusaha belajar untuk menghindari konsekuensi tersebut.

Konsekuensi logis merupakan konsekuensi yang dibuat oleh orangtua. Sebagai contoh, bila anak tidak mau menaruh pakaian kotor di tempat cucian, maka kita dapat menyembunyikan pakaian bersih dari dalam lemari. Hal ini akan mengajarkannya bahwa konsekuensi dari tidak menaruh pakaian kotor di tempat cucian adalah dia tidak akan mendapatkan pakaian bersih. Metode pendidikan ini akan memberikan pelajaran penting bagi anak, di mana mereka dapat belajar tentang hubungan sebab akibat secara alami.

Metode ini juga dapat dipakai dalam menerapkan disiplin menabung kepada anak. Misalnya, pada saat menabung, anak-anak akan sering merasa bahwa uang mereka tidak akan pernah cukup banyak dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuat uang tersebut terkumpul dalam jumlah banyak. Maka sebagai orangtua, kita dapat membantu mereka dengan cara memberi uang tambahan sebagai uang tabungan mereka sehingga waktu yang mereka habiskan untuk mengumpulkan uang akan lebih singkat dan mereka dapat membeli barang yang mereka kehendaki. Metode ini akan mengajarkan 2 manfaat sekaligus, yaitu: melatih kedisiplinan anak dan mengajarkan pola hidup hemat juga.

Aktivitas Menghemat Bersama si Kecil

Aktivitas untuk Mengajarkan Si Kecil Berhemat via savingdinner.com
Aktivitas untuk Mengajarkan Si Kecil Berhemat via savingdinner.com
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan pola hidup hemat di dalam diri anak-anak, beberapa langkah jitu di bawah ini dapat kita jadikan sebagai contoh:

1. Melakukan Aktifitas Belanja Hemat Bersama Anak
Pada dasarnya, anak-anak akan senang bila diajak berbelanja. Biasanya mereka akan sangat antusias dan bersemangat saat melakukannya. Maka kita sebagai orang tua harus pintar-pintar menunjukkan cara berbelanja hemat kepada mereka di dalam kesempatan tersebut. Belilah hanya barang-barang yang memang sangat dibutuhkan, jangan sampai anak melihat kita berbelanja tanpa kontrol dan perhitungan yang jelas manfaatnya. Lakukan aktivitas ini dengan santai dan tunjukkan kepada anak bagaimana cara berbelanja dengan perhitungan yang tepat dan tidak sembarangan dalam memilih barang belanjaan. Dalam hal ini, anak akan belajar teliti dan memiliki pertimbangan yang baik di dalam berbelanja dan menggunakan uang.

2. Mengajarkan Anak untuk Menabung
Ini merupakan salah satu cara yang paling penting dalam mendidik anak agar memiliki gaya hidup hemat di dalam diri mereka. Pada awalnya kita dapat mengajarkan mereka untuk menabung di celengan dan membiasakan kegiatan tersebut terjadi dengan rutin setiap hari. Setelah anak masuk sekolah, maka tak ada salahnya membuka sebuah rekening bank untuk mereka karena sekarang ada banyak bank yang menawarkan tabungan khusus anak dengan berbagai fitur menarik di dalamnya.
 
3. Memberi Tahu Cara Mendapatkan UangTak ada salahnya menceritakan kepada anak bagaimana cara kita mendapatkan uang yang pada akhirnya digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga. Namun perlu untuk diingat, bahwa kita tidak perlu membuat mereka mengerti pada hal-hal yang bisa saja belum saatnya untuk mereka mengerti.

Katakan pada mereka dengan santai dan gaya penceritaan yang menarik dan tidak berlebihan. Hal tersebut akan membuat mereka lebih mudah mengerti dan tidak takut dengan segala kesulitan yang dihadapi oleh orang dewasa saat mencari uang. Kita bisa menceritakan bagaimana orang tua pergi bekerja dengan sangat bersemangat agar anak-anaknya bisa makan dan bersekolah dengan baik tanpa kekurangan apapun, hal ini akan membuat mereka terharu dan lebih menghargai segala pemberian orangtuanya dan mulai belajar untuk berhemat.

4. Melakukan Perbandingan HargaAnak adalah gambaran orang tuanya, begitu kira-kira pepatah yang banyak digunakan oleh orang zaman dulu. Maka hal tersebut pun bisa berlaku pada gaya hidup yang kita tunjukkan pada anak dan kemudian dicontoh oleh mereka di dalam kehidupannya.
Hal ini dapat kita lihat dalam berbagai hal, salah satunya bagaimana cara kita berbelanja. Bila kita terbiasa memilih dan membandingkan barang-barang belanjaan kita dengan cara yang bijak dan anak sering melihat kita melakukan hal tersebut, maka besar kemungkinan mereka juga akan melakukan hal yang sama di saat berbelanja. Anak akan terbiasa untuk belajar membandingkan harga dan kualitas barang yang akan dibelinya dan kemudian mereka akan memiliki kemampuan untuk memilih barang terbaik dengan harga yang lebih hemat.
 
5. Biasakan Berbelanja dengan Uang Tunai
Berbelanja dengan cara yang praktis dan nyaman adalah hal yang sering menjadi pilihan bagi banyak orang. Namun sebagai orangtua, ada baiknya hal tersebut tidak lagi kita lakukan, terutama saat kita berbelanja bersama anak. Hindari menggunakan kartu kredit saat berbelanja bersama anak karena hal itu akan membuat mereka terbiasa dengan kenyamanan dan cenderung berpotensi meniru gaya belanja anda saat dewasa nanti karena anak akan meniru perilaku hidup yang kita tunjukkan pada mereka.

Gunakan uang tunai saat berbelanja, karena dengan demikian kita dapat mengontrol jumlah pengeluaran uang belanja dan menyesuaikan daftar belanjaan yang telah dibuat dengan jumlah uang yang kita bawa saat berbelanja. Hal ini akan sangat berguna untuk membantu kita berhemat dan menghindari pemborosan juga.

Ajarkan Mereka Bersyukur

Sesekali, ajaklah anak untuk melihat kondisi di luar rumah dan di luar wilayah kenyamanannya. Kita bisa mangajaknya mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, di sana mereka dapat belajar bagaimana beruntungnya mereka memiliki segala sesuatu yang ada di dalam hidupnya. Hal ini juga akan mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur dan membiasakan diri berhemat.

Artikel Terbaru

[recent][fbig1][#1d8bee]

Bisnis

[Bisnis][fbig1][#1d8bee]

Asuransi

[Asuransi][fbig1][#1d8bee]

Wisata

[Wisata-Indonesia][fbig1][#1d8bee]

Ikuti Informasi Menarik Dari Kami Melalui Email

Diberdayakan oleh Blogger.